Kewajiban Sosial Influencer: Harus Bisa Jadi Contoh Baik Masyarakat.

Meningkatnya penggunaan media sosial dan teknologi membuat sejumlah profesi baru pun bermunculan. Salah satunya selebgram dan influencer. Kedua istilah itu muncul karena adanya pengguna media sosial yang aktif dan juga populer. Bahkan, keberadaan mereka mampu memberikan dampak, minimal kepada ribuan bahkan jutaan followersnya. Sama dengan artis dan selebriti, keberadaan selebgram and influencer juga dipandang sebagai oknum yang rentan dengan sorotan.
Karena pengaruh mereka yang juga besar, maka segala tingkah laku, perkataan dan perbuatan mereka juga bisa jadi sedikit banyak akan berdampak pada pola pikir masyarakat, setidaknya masyarakat yang mengikuti akun si influencer. Kasus-kasus pelanggaran hukum yang menjerat influncer maupun selebgram juga cukup menyita perhatian publik.
Sebut saja kasus terbaru yang menyita influencer, Rachel Vennya, yang terbukti kabur dari kewajiban karantina. Hal ini tentu menjadi sorotan lantaran sosok Rachel yang harusnya bisa menjadi panutan justru berbuat yang melanggar hukum. Lalu bagaimana seharusnya seorang influencer dan selebgram bertindak?
Kewajiban Sosial Influencer
Sesuai dengan namanya, Inflencer adalah orang-orang yang mampu memberikan pengaruh atau yang bisa meng-influence masyarakat di sekitarnya. Orang-orang ini muncul ke permukaan dan dikenal publik lantaran karya, maupun keaktifan mereka bermain di dunia media sosial. Baik karena memang karyanya yang berkualitas atau karena ragam sensasinya, suka tidak suka, influencer kini telah menjelma sebagai sosok panutan masyarakat, atau setidaknya orang-orang yang mengikuti postingan mereka di media sosial.
Kewajiban sosial yang kini diemban oleh influencer adalah seharusnya mampu menjadi contoh atau teladan yang baik bagi masyarakat. Lebih lanjut, influencer diharapkan mampu memotivasi masyarakat di lingkupnya untuk bisa menjadi lebih baik. Munculnya kewajiban sosial yang tidak tertulis ini juga melahirkan dampak sosial ketika para influencer gagal menunjukkan contoh yang baik. Hukuman sosial seperti pengabaian terhadap karya dan diri pribadi mereka juga rentan terjadi.
Kewajiban dan Dampak Sosial adalah Risiko
Memilih berprofesi sebagai seorang influencer yang kehidupannya juga akan banyak disorot tentu memiliki risiko khusus. Salah satu resikonya adalah munculnya kewajiban yang harus mereka emban untuk bisa menjadi panutan masyarakat. Dampak sosial jika mereka melanggar pun juga sudah menjadi risiko yang harus mereka terima ketika menjadi sorotan publik.
Suka tidak suka, influencer pun haruslah siap dengan kewajiban baru tersebut. Jika ingin terus eksis di jagad hiburan media sosial tanah air, risiko ini pun haruslah diterima oleh influencer. Lebih lanjut, seharusnya tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh influencer dan sejenisnya harusnya bisa sedikit banyak dihindari. Sehingga, hal ini secara langsung juga bisa memotivasi masyarakat untuk bisa jauh lebih berhati-hati dan tertib dengan hukum seperti apa yang idola mereka lakukan.
Dampak Tekanan Penegakan Hukum atas Kasus Hukum yang Menjerat Influencer
Sudah menjadi rahasia umum jika penegakan hukum di Tanah Air masih tebang pilih. Istilah tajam ke bawah dan tumpul ke atas masih kerap menghantui persepsi publik atas penegakan hukum. Anggapan kebal hukum bagi orang-orang kaya, berpengaruh dan terkenal masih kerap menjadi anggapan sebagian masyarakat.
Itulah sebabnya, ketika publik menemukan influencer yang melakukan tindakan yang melanggar hukum maupun norma sosial, tekanan kepada pihak berwenang pun semakin tinggi untuk segera mengusut kasus tersebut. Positifnya, aparat pun bisa semakin mudah untuk memproses kasus. Namun bisa jadi juga, aparat merasa tertekan dan terancam mendapatkan stigma negatif dari masyarakat jika proses hukum berjalan lama atau bahkan terkesan ditunda-tunda.
Fanatisme Akan Tokoh Haruslah Dihindari
Kejamnya dunia media sosial dan dampak yang membayangi, tentu sejatinya bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat plus juga influencer. Dari sisi influencer, hal ini bisa jadi hal positif dimana mereka termotivasi untuk selalu berbuat baik agar bisa tetap menjadi contoh dan keberadaan mereka “dianggap” oleh publik. Namun, bisa jadi juga hal ini menjadi tekanan khusus ketika mereka melakukan kesalahan, baik besar maupun kecil.
Di sisi masyarakat, seharusnya tindakan fanatisme buta haruslah dihindari. Fanatisme akan menggiring masyarakat untuk senantiasa membela satu pihak tanpa didasari dengan fakta maupun sudut pandang pihak lainnya. Intinya, apa yang menurut mereka benar atau salah terhadap seseorang atau sesuatu, maka pendapat itulah yang akan mereka anut hingga akhir. Akibatnya, risiko bullying, kekerasan di media sosial hingga tindakan “pengabaian” bisa jadi cambuk dan efek buruk yang bisa jadi masyarakat lakukan.



Tag Artikel:
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published.