Kebutuhan Pokok Mahal dan Langka , Kita Sudah Terbiasa tapi Jangan Dibiasakan.

Ramadhan merupakan momen yang sangat dinanti bagi masyarakat umat muslim seluruh dunia khususnya umat muslim di Indonesia karena bulan puasa Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan kebahagiaan bagi orang yang menjalankan ibadah dibulan tersebut.
Ramadhan tahun ini juga bertepatan dengan kali ketiga Ramadhan ditengah pandemi covid-19 , yang puasa tahun kemarin sangat ketat mengenai peraturan namun sekarang sudah agak dikurangi sejalan dengan menurunya angka penyebaran kasus covid-19.
Namun hal tersebut juga tidak sejalan dengan perekonomian Indonesia yang masih dalam serba kenaikan dapat dikatakan belum membaik. Nyatanya masyarakat ekonomi menengah kebawah makin terpuruk akibat perekonomian yang tidak kunjung membaik , bahkan harga kebutuhan pokok melambung tinggi
Ramadhan kali ini merupakan ujian kesabaran bagi seluruh elemen masyarakat Indonesia . Tidak heran apabila kenaikan harga kebutuhan pokok melambung tinggi saat memasuki bulan puasa , tetapi kali ini jauh dari bulan puasa kenaikan kebutuhan pokok di beberapa wilayah sudah mengalami kenaikan .Dan juga berdampak pada kelangkaan bahan pangan tersebut.
Banyak timbul permasalahan di masyarakat seperti contoh permasalahan minyak goreng yang tidak kunjung tuntas dan berbagai masalah lain yang timbul. Tetapi pemerintah terkesan seperti menyerah karena tidak mampu mengatasi persoalan kelangkaan dan naiknya harga minyak goreng.
Padahal baru bahan pokok minyak goreng yang mengalami permasalahan belum lagi masalah perekonomian mendatang yang pasti timbul dimasyarakat , padahal masyarakat sangat mengharapkan peran pemerintah sebagai pengatur hukum di negara bisa mengatasi masalah tersebut namun nyatanya pemerintah juga kebingungan mengatasi masalah tersebut.
Masyarakat harus bisa memutar otak untuk menanggapi permasalahan kenaikan harga minyak goreng dan kelangkaan bahan pangan lain yang bisa dikatan tidak masuk akal dan sangat memberatkan masyarakat Indonesia tentunya.
Menjelang puasa diidentikan dengan masakan yang istimewa ketika menyambut datangnya bulan suci umat islam, para ibu sangat merasakan dampak ini tentunya karena para ibu-ibu yang berkecimpung didunia permasakan , dan harus putar otak untuk menyiasati hal tersebut namun masakan yang disajikan tetap istimewa tetapi pengeluaran bisa terkendali akibat naiknya harga bahan tersebut.
Jalan satu-satunya untuk menyiasati persoalan tersebut dengan mengurangi konsumsi , karena memang sulit melakukan penyiasatan namun tidak sejalan dengan subtitusi bahan-bahan pokok tersebut akibat dari kenaikan dan kelangkaan di pasaran.
Apabila dilihat dari data dari tahun sebelumnya terlepas dalam suasana pandemi covid-19 , setiap menjelang bulan puasa ramadhan kenaikan bahan pokok adalah hal yang pasti terjadi dan hal persoalan tersebut masih bisa diatasi oleh pemerintah , namun nyatanya sekarang berbanding terbalik pemerintah juga terkesan kebingungan mengatasi persoalan tersebut.
Ditambah dengan pernyataan para penjabat yang terkesan malah tidak mengurangi persoalan tersebut malah membuat kontra dan gelak tawa bagi masyarakat , sempat ramai di trending twitter mengenai pernyataan tokoh negeri yang meminta masyarakat untuk mengganti menggoreng dengan merebus dan meminta para ibu-ibu agar tidak melulu dalam menggoreng.
Pendapat tersebut memang tidak salah namun kurang tepat saja , kita sebagai masyarakat yang berjumlah penduduk terbesar didunia apalagi dengan negara yang dikenal sebagai negara kuliner yang mengharuskan menggunakan minyak goreng untuk menggoreng makanan tersebut.
Usulan tokoh pemerintah tersebut menuai reaksi unik dari masyarakat , ada yang membuat pantun dan juga gambar lucu , harapan masyarakat hanya ingin persoalan ini bisa cepat teratasi bukan hanya dengan usulan-usulan yang tidak menyelesaikan masalah.



Tag Artikel:
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published.