Densus 88 Kembali Tangkap 2 Terduga Teroris di Sulsel.

Detasemen Khusus 88 Anti Teror kembali menangkan 2 terduga teroris di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Keduanya berhasil diamankan di tempat dan waktu yang berbeda. Beruntungnya, proses penangkapan berlangsung aman tanpa ada perlawanan dari kedua tersangka. Kedua terduga teroris tersebut berinisial M alias AB yang ditangkap pada Rabu, 24 November 2021 dan M alias AA yang ditangkap dua hari setelahnya, yakni pada 26 November 2021.
Latar Belakang Jamaah Islamiyah yang Diikuti Pelaku
Kedua tersangka tersebut terlibat dalam jaringan kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI). Seperti yang sudah kita ketahui, JI adalah kelompok ekstremis berlatar belakang islam yang berpusat di Indonesia. Kelompok tersebut memiliki tujuan ingin mendirikan negara islam raksasa di Asia Tenggara. Jamaah Islamiyah sejatinya adalah pecahan dari organisasi Darul Islam yang mulai bergabung dan menyusun aksi di akhir 80-an hingga awal 1990-an.
Tokoh penting di balik berdirinya Jamaah Islamiyah yang kini anggotanya tumbuh subur di sejumlah wilayah di Indonesia adalah Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir. Keduanya adalah tokoh keturunan Arab Yaman yang sudah memiliki latar belakang sebagai aktivis gerakan islam ekstremis.
Tidak bisa dibilang remeh, Jamaah Islamiyah bahkan telah melancarkan aksi kejamnya pada Desember 2000 dengan melakukan serangkaian aksi pengeboman di geraja. Atas aksi tersebut, 18 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Di momen yang sama, aksi yang sama juga berlangsung di Manila dan bahkan menewaskan setidaknya 22 orang dan puluhan lainnya luka-luka.
Sejumlah negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura dan Filiphina langsung bergerak secara massive untuk memberantas anggota Jamaah Islamiyah hingga ke perbatasan. Sayangnya, pemerintah Indonesia pada masa itu enggan ikut campur dan secara eksplisit mengatakan keraguannya terhadap keberadaan Jamaah Islamiyah.
Namun, aksi bom bali di tahun 2002 yang menyisakan luka bagi Indonesia dan dunia akhirnya membuka mata pemerintah Indonesia bahwa nyatanya ancaman terorisme nyata di bumi pertiwi. Akhirnya, di waktu yang sama, pemerintah pun bergabung dengan negara Asia Tenggara lainnya untuk ikut serta memberantas ancaman terorisme. Tak tanggung-tanggung, Jamaah Islamiyah semakin membabi buta dengan meluncurkan serangan bom bunuh diri di JW Marriot Hotel, Kedutaan Besar Australia dan Bali pada rentang waktu 2003-2005.
Beruntungnya, otak dibalik berbagai penyerangan keji tersebut berhasil dilumpuhkan. Nordin M Top, salah satu pemimpin Jamaah Islamiyah tewas dalam aksi baku tembak pada tahun 2009. Eksistensi JI di sejumlah negara Asia Tenggara mulai melemah ketika sejumlah negara berhasil menangkap setidaknya 400 orang anggota dan beberapa pemimpin senior.
Bahkan, pemimpin inti JI, Ba’asyir juga berhasil ditangkap dan diadili pasca mendirikan Jemaah Ansharut Tauhid dan mengoperasikan camp militer khusus di Aceh. Hingga terakhir, pada tahun 2009, organisasi ini meluncurkan aksi bom bunuh diri di Hotel Ritz Carlton Jakarta dan sejak saat itulah tindakan ancaman terorisme di Indonesia mulai memudar, meski hal ini sama sekali tidak boleh kita remehkan.
Aliran Dana JI Bahkan Capai 70 Miliyar Per Tahun
Atas penangkapan kedua tersangka terduga teroris di Sulawesi Selatan tersebut, kedua tersangka mengaku bahwa JI mendapatkan aliran dana yang mencapai 70 Miliyar per tahunnya. Dana ini diperoleh dari Lembaga Amil Zakat Baitul Maal Abdurrahman Bin Auf (LAZ BM ABA). Namun sayang, keduanya belum bisa memberikan bukti kepada aparat kepolisian. Kucuran dana tersebut diperuntukkan untuk membeli atau membuat pasokan senjata hingga membiayai pelatihan militer para anggota kelompok.



Tag Artikel:
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published.